Kunang-kunang (1)

‘Baik, rapatnya dilanjutkan besok’. Selesai sudah kesibukan sehari ini. Menuju puncak dan ikut rapat di last minutes, itu juga karena tidak sengaja ketemu atasan pas mau ganti sepatu ke ruangan.

Kamar hotel yang cukup unik. Nuansa klasik coba dihadirkan dengan tambahan anyaman bambu di langit-langit. saya berbagi kamar dengan teman junior. Waktu menunjukkan jam 23:28. Sudah larut malam.

Ada yang perlu diceritakan tentang uniknya hotel yang saya tempati. Hotel ini terdiri dari beberapa bagian, dan mereka terpisahkan oleh sungai. Bukan cuma satu, tapi dua sungai. Setelah di front office, untuk menuju bagian pertama, harus turun tangga dan menyeberang jembatan kayu. Menyusuri jembatan dengan aliran air yang deras, di kala maghrib, cukup bikin hati tidak tenang. Sampai diujung jembatan, EO yang ada di depan sedikit teriak, ‘ini masih 30%’. Well….saya mengernyitkan dahi.

Setelah naik turun tangga, sampailah di jembatan kedua yang menghubungkan restoran dengan kamar saya yang letakknya paling ujung. Ujung atas sendiri. Jembatan besi mirip jembatan penyeberangan di Jakarta. Bukan hanya bentuknya, tapi juga lantai nya yang berwarna coklat, seperti terlihat tidak kokoh. Hati berdesir melewati jembatan kedua ini.

Dan akhirnya sampai pada jalan menanjak yang harus dilalui untuk sampai di kamar. Mungkin sekitar 100 meter tanjakan yang harus ditempuh. Cukup melelahkan karena saya langsung minum dua gelas air putih. Seorang senior yang sudah cukup senior bahkan mengeluh lutut kirinya sakit. Sambil bercanda, saya bilang ‘faktor umur pak….’.

Namun cerita yang bikin ngeri adalah cerita tentang hantu. Entah siapa yang mulai, di akhir rapat malah pada cerita hal-hal mistis. Cerita tentang hantu yang banyak tinggal di tepi sungai dan suka bunyi gemericik adalah yang paling bikin hati dagdigdug. Sungai dengan aliran deras hanya sepelemparan batu jaraknya dari kamar.

— to be continued-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *