Prestasi dan kegagalan

Saat kelas 5 SD, saya mewakili kecamatan untuk porseni tingkat kabupaten dalam lomba baca puisi. Saya juara dua, dan hanya jadi ‘cadangan’ untuk porseni tingkat karesidenan.

Saat kelas 6, lagi-lagi saya lolos porseni tingkat kabupaten untuk mewakili kecamatan dalam lomba baca puisi, saya gagal total. Tidak mendapat gelar apapun, bahkan juara harapan.

Saat kelas 6 SD saya ikut lomba dokter kecil tingkat propinsi. Saya mewakili kabupaten sebagai tim leader. Tim saya gagal. Tidak lolos tiga besar.

Saat kelas 2 SMA saya juara pertama lomba debat bahasa inggris tingkat kabupaten sebagai first speaker. Maju ke propinsi dan lolos sampe perdelapan final. Saya juga sebagai wakil kabupaten dalam seleksi WSDC (world scholl debatting championship) tingkat propinsi.saya gagal jadi 5 besar dari 32 wakil.

Saat kelas 3 SMA saya gagal juara satu saat lomba debat bahasa inggris tingkat kabupaten. Malu sekali. Karena tahun sebelumnya saya sampai ke propinsi.

Saat kelas 3 SMA saya hanya juara 4 lomba essai lingkungan tingkat sma di kabupaten. Saat yang lain dipanggil maju ke depan untuk menerima piala saat upacara di sekolah, saya hanya menonton sebagai peserta.

Saya ternyata sudah menikmati dan mengalami banyak hal. Prestasi dan kegagalan datang silih berganti. Memang seperti itu adanya. Kegagalan seringkali memang memberi kesedihan, menghadirkan keterpurukan dan menghadirkan malas. Sedang prestasi keberhasilan membawa senyum dan bangga, menghipnotis mulut untuk tak henti tersenyum.

Hampir satu setengah tahun bekerja, saya merasa banyak kegagalan muncul, namun saya juga harus tetap mencatat pencapaian-pencapaian positif untuk menyeimbangkan semangat. ‘bad time’ mungkin kadang berjalan di samping kita, tapi saya percaya di sisi samping lainnya, ada ‘good time’ yang memberi senyum dan semangat…

One Reply to “Prestasi dan kegagalan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *