Amplop

Amplop kemarin entah yang keberapa kali kuterima. Puluhan kali mungkin, saya menerima amplop tahun ini. Jujur saja, amplop itu berisi uang, yang jumlahnya bagi saya empat tahun yang lalu saat jadi mahasiswa, berarti uang jajan dan makan selama tiga-empat hari bahkan seminggu.

Amplop putih bertulis nama ku di sisi kanan atas kemarin, aku dapatkan setelah dua hari ini meleburkan diri ke dalam rapat tak berujung. Mungkin terdengar berlebih, tapi rapat maraton memang seringkali terlihat tak berujung. Rapat yang mulai di awal pagi dan selesai larut dini hari. Mereka bilang, “honor nya cuma segini ya mas“. Saya tersenyum saja, karena memang sempat melirik isinya tadi, dan memang apa yang didalamnya membuat saya tersenyum.

Saya jadi ingat, pada suatu ketika di tengah bulan September, dalam seminggu saya bisa menerima tiga amplop sekaligus. Senyum ceria tentu menghias bibir, siapa tak suka dapet uang lumayan buat jajan.

Tapi cerita tentang amplop bukan semata tentang isi. Saya bekerja keras dan menghabiskan banyak energi untuk berpikir sebelum amplop itu masuk ke tas saya. Saya berhenti sejenak sebelum saya bubuhkan tanda tangan di lembar presensi. Tanda tangan ini tidak sekedar akan memberi saya amplop. Tanda tangan ini menghadirkan tanggung jawab yang akan saya pikul mungkin bahkan sepanjang masa, yang kalau dipikir tidak sebanding dengan isi amplop yang saya dapat, isi yang habis dalam tiga hari karena dipakai beli buku dan cari kaos ukuran besar di dunia maya.

Tapi sudut hati yang lain berujar tenang dan mendinginkan batin, ini memang pantas diterima karena perjuangan dan pekerjaan yang sudah diselesaikan. Ya karena saya percaya, amplop tidak melulu tentang itu. 🙂

3 Replies to “Amplop”

  1. haha.. yup! amplop! terkadang selalu dikolerasikan dengan konotasi negatif.. :p

    note: Mr. Yuniar, I have something for you, please check out my blog 😉 thanx before

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *