Bisa

Minggu lalu, Kang Janges yang sekarang jadi calon pegawai mengeluh hebat. Ceritanya tentang problematika pekerjaan dan tantangan orang baru di kantor yang mengharu biru, heroik dan di beberapa segmen mencemaskan. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya berkelok-kelok liar seperti sungai Amazon. Bercabang kesana kemari, namun tetap saja menyeramkan. Kang Janges bercerita bahwa dia dijadikan “anak tiri” di kantor. Tidak diperhatikan senior, dan seperti terlupakan, terpinggirkan tanpa tahu kenapa dia seperti dilupakan dan dipinggirkan.

Awal masuk Kang Janges, diceritanya yang mengalir deras seperti Kali Klawing di desaku sana, dia bersama teman yang juga baru masuk dan ditempatkan berdua di sebuah ruang yang merangkap “semacam gudang”. Namun temannya ini sudah dipindah ke ruang lain karena satu dan lain hal. Tinggallah Kang Janges sendirian di ruang kerjanya. Ditemani bertumpuk-tumpuk file dokumen.

Ah, kasian sekali Kang Janges ini pikirku. Harus bergelut dengan hiruk pikuknya politik kantor di usia kerja yang baru seumur jagung yang ditanam kemarin sore. Namun tadi malem, Kang Janges mengirimkan sms cukup panjang. “Teman, Pertanyaan penting seperti yang diajukan oleh seorang lelaki tentang perempuan bukanlah ‘bisakah aku hidup dengannya’ tetapi yang terpenting adalah ‘bisakah aku hidup tanpanya’. Bisakah saya hidup tanpa tempat kerja saya? Ini pertanyaan mendasar. Jika jawabannya adalah tidak bisa, maka seorang ‘saya’ akan mencari jalan untuk bertahan, apapun bayarannya. Tetapi jika ternyata ‘bisa’, cerita akan lain….

Entahlah Kang Janges sedang dalam tingkat stres yang stadium mana, entah sudah berguru dan bertanya kepada siapa dia, sehingga kata-kata bijak itu bisa muncul di layar handphone ku. Namun sms panjangnya itu mengingatkanku pada satu hal mendasar, ada atau tiada orang lain, teman, sahabat, teman kerja, kita sendiri yang akhirnya harus memilih masing-masing, akankah kita terus maju ke depan, atau berhenti dan menyerah pada keadaan.

Kang Janges mungkin sedang berjuang sangat keras di dalam kesendiriannya. Bisa saya bayangkan tekanan mental yang dia hadapi. Namun saya percaya, di usia kerja yang masih muda itu, tidak seharusnya dia menjadikan kesendiriannya, ruang kerja yang cuma diisinya sendiri, senior yang pilih kasih sebagai batu sandungan berarti dalam ibadahnya dalam bentuk bekerja. Ah, Kang Janges, kamu hebat sekali!!!. Aku tak sabar menunggu sms nya datang lagi malam nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *