ini tidak fair

Seorang kawan mengeluh tentang situasi tidak fair di tempatnya bekerja. Dia dan beberapa orang masuk kerja bersamaan, namun hanya beberapa dari orang baru yang seringkali diperhatikan dan diberi pekerjaan oleh atasan. Ternyata alasannya, kata kawan saya itu adalah karena mereka yang diberi pekerjaan adalah satu almamater kuliah dan yang tidak diberi beda almamater.

Saya seketika teringat ketika seorang kawan marah besar, dia merasa potensi nya yang luar biasa jadi hilang dan tidak tergali karena atasannya tidak memberi perhatian dan kesempatan untuk menunjukkan potensi besarnya. Dia membandingkan dengan teman kerja nya yang juga anak baru di kantor, katanya, lebih sering banyak disuruh bantu kerja dan disuruh ikut banyak seminar dan pelatihan karena temannya itu satu almamater sama bos nya.

Saya ingat, dulu ketika SD, ada guru yang selalu menunjuk seorang muridnya maju ke depan untuk mengerjakan hampir semua mata pelajaran. Bukan karena dia pintar, bukan pula karena dia rangking pertama di kelas, tapi karena sang murid ternyata anaknya sendiri. Tapi saya ingat juga, yang rangking pertama dan dikirim untuk ikut lomba siswa teladan adalah kawan lain yang cerdasnya terlihat benar, tanpa harus terus disuruh maju dan diberi kesempatan berlebih karena faktor tertentu.

Saya jadi berpikir, kehidupan tidak fair memang bisa terjadi dimana saja. Faktor kedekatan, faktor personal dan faktor lain sering dijadikan alasan kenapa situasi tidak fair bisa terjadi.

Saya justru agak bertanya kepada kawan saya, kenapa harus marah dan kenapa harus mengeluh ketika apa yang tidak fair itu terjadi?. Sisi humanis kita mungkin tersakiti dengan situasi tidak fair, tapi harus diingat kita mungkin seringkali mendapat dan terposisi sebagai orang yang dikasih kemudahan juga dalam pekerjaan, misalnya, karena faktor-faktor tersebut. Hanya karena kita jadi pesakitan kita kemudian marah dan mengeluh, namun saat mendapat kesenangan, kita diam dan menikmati tanpa memikirkan teman dan rekan kerja, misalnya.

Saya pribadi sih mencoba fair untuk situasi tidak fair, ya diterima saja kalau nanti saya mengalami hal ini. Bukan apa-apa, toh mengeluh dan marah tidak akan menyelesaikan situasi. Saya sudah punya banyak pengalaman buruk dengan marah dan mengeluh dan berjanji untuk tidak banyak memainkan dua hal ini dalam segenap aspek kehidupan saya.

Ketika seorang teman berangkat ke luar negeri ikut pelatihan misalnya, maka itu prestasi yang harus diapresiasi. Jangan-jangan itu bukan situasi tidak fair, tapi karena memang dia harus berangkat dan kita cenderung cemburu atas pencapaian itu, walau akhirnya memang jika itu lebih karena faktor lain ya harus ngomong apalagi.

Well, saya pribadi mendapat banyak sekali pelajaran hidup selama memasuki dunia baru lima bulan terakhir, termasuk bagaimana menjadi pribadi yang tetep unggul di situasi tidak menguntungkan dan tidak mendukung kita. Tetep fokus, tetap lakukan yang terbaik, tetap berdoa. Saya percaya betul, Gusti ora sare, Tuhan tidak tidur dan melihat apa-apa yang terjadi diumatnya, apa yang dilakukan umatnya.

Seorang kawan berkelakar namun juga mengingatkan, apa yang kamu anggap baik, belum tentu baik oleh Tuhanmu, demikian sebaliknya. Maka berusahalah sebaik mungkin dan serahkan sisa nya pada yang di atas.

Sesederhana itu saja. Atau mungkin tidak sederhana saja ya? Haha…….

gambar dicomot semena-mena dari google.com dengan keyword “unfair”

3 Replies to “ini tidak fair”

  1. Itu ceritanya kok dari orang ketiga jadi orang pertama sih 😛

    ni postingan mengandung SARA nih, Suku Agama Ras Almamater 😆

    tenang aja bos, emas di comberan tetep aja emas 😉

    *gw posting dari henpon*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *