Sekedar lalu

Saya ke Jogja akhir pekan ini, untuk ikut seminar dan bedah buku, dosen dan sekaligus sudah saya anggap teman. Selain tentunya saya kangen Jogja yang sudah lima bulan ini saya tinggalkan karena bekerja di Cibinong dan ingin menghabiskan loooong weekend ini di sana.

Dosen saya ini, honestly, punya nama yang (cukup) terkenal, terutama di lingkungan kampus saya. Muda, pintar, publikasi dimana-mana, ramah dan banyak hal baik lainnnya. Saya yang sudah kenal dengan beliau sejak 2005 sepakat dengan apa banyak orang katakan tersebut.

Sebagai seorang hebat, dosen saya banyak membuat orang terpesona. Saya tidak hitung berapa kali applause yang diberikan oleh audience saat seminar kemarin itu. Para mahasiswa yang takjub dengan pencapaian dosen saya ini hanya bisa seringkali kelepasan komentar, wah hebat banget ya, pinter ya.

Dalam acara tersebut, pada sebuah sesi saya berbicara agak panjang di depan forum karena menjelaskan sesuatu hal. Dosen saya menyebut nama saya beberapa kali dan meminta saya berdiri. Mahasiswa yang jumlahnya ratusan itu, sedikit banyak, jadi melihat ke arah saya.

Diakhir acara, seorang mahasiswi mendekati saya dan berkata polos, Mas, boleh foto bareng?. Saya terus terang terkejut. Bukan apa-apa, sepertinya apa yang dosen saya lakukan saat seminar tadi, membuat beberapa orang menganggap saya orang yang wah juga.

Saya berikan kartu nama saya, dan kira-kira satu jam kemudian, ada sms masuk di hape saya. Mas, saya blablabla, yang tadi foto bareng, makasih ya mas kartu namanya, mas pinter banget sih. Dan saya seketika jadi semakin merasa aneh dan canggung.

Di sabtu siang, dosen saya yang akan balik ke Oz ini, mengajak saya makan siang. Saya ceritakan kalo ada mahasiswi terperdaya apa yang beliau katakan saat seminar sampai-sampai minta foto bareng. Haha, dan tertawalah kami berdua.

Dosen saya, mengatakan saat seminar, kalau ada apa-apa silahkan kontak saya. Tidak harus bertemu muka langsung, ada email, ada facebook. Farid sudah beberapa kali menulis dengan saya, presentasi di beberapa seminar dan kami hanya berkomunikasi dengan email. Saat skripsi pun Farid juga menghubungi saya dengan email.

Mungkin ini yang membuat orang jadi melihat saya tidak biasa, walau sesungguhnya saya hanya mahasiswa dengan IP pas-pasan, tidak juga cerdas, tidak juga menonjol kemampuan akademisnya. Berkirim email bisa dilakukan oleh siapapun kepada siapapun, menulis juga sama halnya, bisa dilakukan oleh siapapun, dengan siapapun, dan apapun temanya. Tapi mengapa hanya sedikit mahasiswa yang menulis tulisan ilmiah populer seperti yang saya lakukan dulu? Mungkin jawabannya terlalu sederhana untuk didiskusikan. Intinya, kemauan.

Jika saya sekarang rajin menulis, percayalah saya mengasahnya tidak dalam hitungan bulan, tapi tahun. Saya menulis di blog dari masuk kuliah (2004). Saat SMA, saya mengikuti lomba menulis esai lingkungan, misalnya. Saat SMP, saya menulis cerpen. Dari mana semua itu? Saya mau. Itu saja.

Saya kemudian berfikir, tidaklah istimewa orang yang bisa menulis ini dan itu, yang bisa membuat orang kagum dan takjub. Yang istimewa adalah ketika kita mau untuk juga memulai kesuksesan dengan kemampuan diri yang dipunya. Harus saya akui, awal bertemu dosen saya itu, saya takjub luar biasa dan mengidolakan sekali dosen saya karena kemampuan menulis dan berbagi yang yang layak diacungi dua jempol, bahkan empat. Sampai pada suatu ketika kekaguman itu saya ubah tidak sekedar memberi pujian dan berdecak kagum. Saya menghubungi beliau, belajar menulis yang baik, benar, dapat diterima orang, dan tentu saja berkualitas. Ya, sederhana saja ternyata, karena saya mau. Maka saat mau, halangan komunikasi, tatap muka yang tidak mungkin dilakukan, tidak jadi penghalang berarti.

Mau ini yang ternyata membuat dosen saya berhasil sampai tahap saat ini. Tahap dimana beliau mungkin “tokoh muda” yang membanggakan almamater. Pernahkah dipikirkan, ketika seseorang sukses dan menjadi tokoh, ada berapa puluh buku yang dia sudah baca? ada berapa orang yang ditemui dan diajak diskusi? ada berapa banyak pengorbanan yang sudah dilakukan? Tapi saya percaya, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk itu juga, asal mau. Intelektualitas dan kepintaran pribadi itu hanya bonus dan penunjang nomor sekian dalam usaha yang harus dilakukan. :). Dan memuji dan memuji, berdecak kagum saja tidak cukup untuk memajukan diri. 🙂

Selamat siang. Selamat hari senin setelah libur panjang.

2 Replies to “Sekedar lalu”

  1. Diakhir acara, seorang mahasiswi mendekati saya dan berkata polos, Mas, boleh foto bareng?

    cakep ga? 😈

    those phrase is worthless without pics 😎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *