Kesungguhan dan Memaafkan

seorang teman berbagi email bijak di milis tadi pagi, isinya:

Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kau sedang belajar tentang memaafkan. Ketika kau harus lelah dan kecewa,maka saat itu kau sedang belajar tentang kesungguhan.

Rupanya, saya belajar banyak sekali tentang dua kata tersebut minggu terakhir ini. Bukan dengan membaca buku, bukan dengan diskusi, tapi dengan menghadapi deadline menumpuk dan kerjaan yang sungguh menyeramkan sekali membayangkan mereka belum terselesaikan di akhir deadline. Antara kecewa, malu, dan ketakutan kehilangan kepercayaan menjadi satu terbalut galau dan waktu yang semakin memendek.

Saya sampai harus “bertengkar sangat hebat” dengan teman karena tingkat stres yang sangat tinggi, saya merasa sangat lelah dan tanpa daya menyelesaikan semua yang saya harus selesaikan. Saya sekarang tersadar, saat semua, akhirnya deadline terlewati dan semua pekerjaan sudah dilalui dengan (sedikit) baik.

Saya rupanya sedang belajar untuk memaafkan, saya di waktu yang sama juga sedang belajar kesungguhan. Dan saya “membayar” sangat mahal untuk dua pelajaran tersebut, persahabatan, ego, dan sakit. Kalau mau dibilang saya tidak cukup cakap melewati tantangan minggu kemarin, mungkin benar. Rasa sesal ini muncul. Tapi pengalaman adalah guru yang berharga, saya percaya itu.

Pelajaran dan kesimpulan memang akhirnya selalu datang di akhir cerita, bagaimana jalan cerita, lakon yang diperankan, kita berhak, sekaligus berkewajiban untuk memilih dan kemudian memerankannya.

Saya bersyukur, saya mendapat pelajaran memaafkan dan kesungguhan dari hal yang saya alami minggu kemarin. Saya percaya, hidup adalah tempat belajar sepanjang waktu, dengan siapapun, tentang apapun, kapanpun.

gambar di comot dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *