Keberuntungan Orang Besar

Hari ini saya membaca berita di koran, Dino Pati Djalal akan melaksanakan fit and proper test untuk jadi dubes Indonesia untuk Amerika Serikat. Dalam berita itu disebut, Dino Pati Djajal sekaliber dengan Marty Natalegawa, menteri luar negeri Indonesia saat ini. Saya tersenyum, Indonesia (masih) memiliki orang-orang besar saat ini.

Apa yang sudah Dino Pati Djalal dan Marty Natalegawa lakukan untuk mencapai posisi dan pengakuan seperti sekarang?. Google dan Wikipedia membantu banyak menemukan fakta yang terserak. Dan summary nya cukup jelas, mereka melalui jalan berliku untuk menjadi seperti saat ini. Saya yakin, walaupun Dino Pati Djalal adalah putra dari Hasyim Djalal, sang maestro dan legenda hukum laut yang dimiliki Indonesia, Dino mendapatkan apa yang dimilikinya sekarang tanpa campur tangan berarti dari ayahnya.

Saya memiliki seorang dosen yang saat ini terkenal, tidak sekedar di lingkungan kampus tapi sudah ke tingkat nasional. Keahliannya di bidang batas wilayah, dan ide-ide cerdasnya menjadikannya berada pada posisi sangat baik saat ini. Paris, New York, Tokyo, dan kota-kota lain di sekeliling dunia ini sudah diambahnya, dengan berbekal ilmu. Tapi percayalah, dosen saya ini tidak bermain sulap dan tinggal bilang “avadakabadra” dan dia pada pencapaiannya saat ini. Saya yang seringkali mendengar ceritanya, hanya bisa mengangguk, usaha kerasnya yang memang luar biasa. Apakah dosen saya ini keturunan orang besar? Jika komparasinya Hasyim Djalal mungkin sama sekali tidak, kedua orang tuanya adalah penambang cadas di Bali sana. Ibunya bahkan tidak lulus SD.

Seorang kawan pernah berkelakar, orang pintar itu kalah sama orang beruntung. Saya seringkali mengiyakan. Betul, memang begitu adanya. Saya menjawab seadanya, “sayang sekali, saya tidak sering mendapat keberuntungan”..

Dosen saya, yang saya sebut diatas, pernah berkata, “keberuntungan itu bagi saya adalah pertemuan antara kesempatan dan kemampuan”. Seorang bisa saja mendapat kesempatan untuk jadi beruntung, tapi kesempatan itu akan lepas jika tidak punya kemampuan. Anda punya kesempatan untuk beasiswa ke Belanda, bos siap merekomendasi, lowongan ada, tetapi anda tidak bisa Bahasa Inggris. Ya sudah, keberuntungan itu menguap begitu saja.

Dosen saya seringkali bergurau, apa yang dicapainya saat ini banyak yang merupakan faktor keberuntungan. Sekarang saya tahu, bahwa keberuntungan yang didapatkannya adalah keberuntungan yang luar biasa. Keberuntungan yang memang terjadi karena dia berusaha keras untuk menjadi berilmu seperti saat ini. Keberuntungan yang didapat karena memang dia mencari kesempatan mendapat keberuntungan untuk kemudian digabungkannya dengan kemampuan yang dia miliki.

Saya seringkali bermimpi jadi orang besar. Mereka yang diakui ilmu dan kepintarannya. Saya sekarang sadar, di sela waktu yang terus berjalan, saya harus lakukan dua hal. Mencari ilmu dan mencari kesempatan. Karena sederhana saja, saya ingin mencoba mencari keberuntungan. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *