Ibu-Anak

Minggu ini, saya selalu berangkat kantor agak siang. Sudah tiga hari ini. Jam delapan kurang lima baru berangkat dari kos. Kalau biasanya, jam setengah tujuh kurang lima sudah sampai di kantor. Perbedaan jam berangkat ini memberikan saya pemandangan yang berbeda. Ketika berangkat agak pagi, maka jalan penuh sesak dengan angkot dan kendaraan. Berangkat agak siang, pemandangan berubah agak drastis. Jalanan agak sepi dan volume kendaraan tidak sebanyak pagi hari.

Disamping perihal kendaraan, saya mendapati pemandangan, yang baru saya lihat ketika berangkat siang (atau mungkin baru saya sadari). Saya menjumpai ibu-ibu mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Dalam hati bertanya, kok berangkatnya siang banget?. Seperti layaknya murid sekolah, sang anak memakai sepatu, berseragam, dan menggendong tas.

Setelah saya perhatikan, ternyata mereka yang diantar ibunya ke sekolah itu adalah mereka anak-anak berkebutuhan khusus (down sindrome). Sang ibu, menggandeng tangan sang anak, dan sang anak sibuk entah dengan apa, karena saya perhatikan mereka melihat-lihat sekeliling, menggerakkan kepala kesana kemari dengan senyum-senyum sendiri.

Down Syndrome

Terus terang saya baru tahu kalau jalan yang saya lewati setiap hari, di ujung jalan yang entah ke mana arahnya dan dimana ujungnya, ada sekolah atau tempat untuk pendidikan anak down sindrome. Melihat yang seperti ini, saya jadi kepikiran banyak hal. Tentang kasih sayang ibu yang sungguh memang sepanjang jalan dan tidak berujung. Tentang perjuangan baik ibu, anak dan mungkin keluarga mereka untuk merawat dan membesarkan anak berkebutuhan khusus seperti ini. Tentang hidup yang memang tidak bisa direncanakan apa-apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Berangkat siang ternyata banyak memberi hal baru bagi saya. Mungkin ini kenapa banyak orang yang sering berangkat kantor siang hari, bukan apa-apa, bukan juga karena malas, mungkin karena berangkat siang mengajarkan banyak hal baru dalam hidup…haha, pembelaan diri ini namanya :mrgreen:

image courtesy: here

6 Replies to “Ibu-Anak”

  1. eh, ekolah itu di bagian mana bogor? *saya pernah loh tinggal di bogor selama 1 bulan, waktu magang di CIFOR :D*

    yang masih belum saya mengerti adalah, kenapa kalo anak down syndrome punya wajah yang mirip di seluruh dunia.. padahal kalo anak normal mukanya bisa sangat variatif satu sama lain.

  2. @rime: di cibinong lebih tepatnya…ntah sekolah resmi, entah mungkin sekedar “tempat belajar”…

    Nah itu, iya memang “mirip” ya mukanya…mungkin karena anak down syndrome itu punya kemiripan fisik yang sama, sedangkan anak normal berbeda ciri fisiknya. Silahkan bertanya pada wiki, google, dan bing untuk detil nya. Pasti sudah ada yang membahas…. :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *