The End

“We can’t choose our happy endings. We don’t even know how the story goes.”

Saya membaca status facebook seorang senior di kantor. Kita tidak bisa memilih akhir cerita yang bahagia, karena jangankan akhir, bagaimana cerita berjalan juga kita bahkan tidak tahu. Sekilas baca, saya kok melihat sebuah keputusasaan di sini. Tapi jika dilihat dari sisi bijak, kalimat di atas mungkin memang dimaksudkan agar kita tidak terlalu berharap pada akhir yang sesuai dengan keinginan kita. Bahwa perjalanan mencapai akhir cerita, juga kadang tidak bisa kita berikan alur-alur yang mana kita inginkan.

Saya seketika teringat, apa yang saya baca hari kemarin ini. Tentang tanda-tanda kebahagiaan hidup. Salah satu dari 7 tanda kebahagiaan hidup adalah hati yang selalu bersyukur. Kita mungkin memang tidak bisa menentukan akhir, kita mungkin harus mempertimbangkan banyak parameter dan bahkan many obstacles ketika kita melakukan sesuatu, in the middle of doing something. Tapi dengan ilmu syukur itu, akhir cerita sejatinya tidaklah happy dalam artian kita senang karena sesuai rencana dan angan-angan kita. Tapi akhir itu, tentunya setelah kita berikhtiar dengan baik, dilaksanakan bersama dengan doa yang kusyuk kepada yang di atas, maka akhir yang akan sampai pada kita, adalah akhir yang terbaik. Kita mungkin saja berkeinginan bahwa akhir A adalah happy ending. Akhir A adalah akhir yang we predict, we want and even can control how the story goes. Tapi ketika ending nya ternyata B, bukan A. Apakah itu bukan akhir yang bahagia?. Yang saya baca, hati yang selalu bersyukur akan berucap, “Alhamdulillah…betapa besar karunia Tuhan yang sudah memberikan semua ini padaku”. Bukan cacimaki dan gerutu yang muncul, tapi sebuah syukur dan rasa bahagia bahwa Tuhan telah memberikan keputusannnya untuk akhir yang seperti itu, akhir yang seringkali bukan seperti yang kita inginkan di awal.

Mungkin berat sekali, mungkin juga akan butuh waktu dan perjuangan luar biasa untuk bisa menjadi manusia yang pandai bersyukur pada yang di atas sana. Tapi percayalah, kebahagian hidup itu salah satunya tercapai jika hati kita adalah hati yang pandai bersyukur.

Saya tuliskan di baris komentar di status tersebut, itu kenapa, ikhtiar dan doa harus dilaksanakan dengan sepenuh hati dan semangat mba en… ending is only ending. Bagaimana kita melewati nya yang akan jadi cerita. :). Just IMHO. Ketika kita mendapat beasiswa ke luar negeri misalnya, maka yang akan menarik dibicarakan adalah bagaimana kita bisa mendapat beasiswa itu, perjuangan berat ini itu yang harus dilakukan. Mendapat beasiswa nya patut diapresiasi, tapi yang lebih diapresiasi adalah perjuangan mendapatkan itu semua. Hanya sekilas pikiran saya…

Selamat berakhir pekan, kawan!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *