Menikah tanpa batas

Pagi ini saya diberi undangan pernikahan Mba Achiet dan Mas Oki, dua senior di kantor. Ada yang menarik dari undangan pernikahan mereka, bukan undangannya yang dua bahasa, tapi kalimat di belakang undangannya.

DI SELA-SELA TOPIK SENGKETA BATAS

DI TENGAH PEMBICARAAN SOLUSI MELALUI PENEGAKAN BATAS

KAMI SEPAKAT MENGHAPUS BATAS DIANTARA KAMI

DAN MEREKATKAN YANG TERSERAK ANTARA KAMI ATAS RIDHO-NYA

(ACHIET & OKI)

Ya, Mas Oki dan Mba Achiet memang dua praktisi batas wilayah, jadi tidak heran ketika kalimat diundangannya terkait batas. Haha, sangat menginspirasi. Dan juga kalimat di atas kiranya menggambarkan dunia yang sudah, sedang dan akan di lalui selama hidup. Kalau di kantor, pertanyaan “Do we live in borderless world?” mungkin terjawab jelas dengan “ya, kita hidup di dunia yang berbatas, dalam konteks batas antarnegara misalnya, batas kedaulatan dan hak berdaulat memang ada dan harus didefinisikan dengan jelas”, maka mungkin di rumah, pertanyaan itu akan terjawab sederhana, “No, there are no border between us two….” :mrgreen:

*Wah, saya kalo nikah mau nulis apa yah? Haha,….tenang masih lama (at least setelah huruf C nya hilang…wekekke)

3 Replies to “Menikah tanpa batas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *