Do We Live in A Borderless World?

Do we live in a borderless world?. Pertanyaan ini saya jadikan status facebook saya beberapa kali, tujuannya jelas, ingin tahu apa ide dan pendapat terkait pertanyaan di atas tadi. Ada beberapa komentar yang muncul. Teman satu kantor memberikan pandangannya, tergantung cara pandang dan subjek pembicaraannya.. kalo ngomong interaksi sosial sich iya.. tp ketika bicara kedaulatan tentu lain soal, begitu katanya. Teman saya di Lampung berujar, Borderless tu tnp bts kan? I think the world is borderless, but our life is bordered by time, religi n social etiquette..hehe.. Soale kalo g, ‘chaos’ yg bkl muncul. Saya memang tidak menyebutkan borderless yang seperti apa, dan kondisi yang bagaimana. Saya sengaja biarkan masing-masing ide dapat dikeluarkan tanpa terkungkung dengan batasan yang saya buat.

Saya nonton My Name is Khan untuk kedua kalinya kemarin sore. Di nonton yang kedua ini, saya tidak lagi seterharu biru seperti nonton yang pertama, tapi saya malah mendapat banyak sekali pelajaran hidup terkait batas. Ibu Rizwan Khan, menasehati Rizwan tentang hal paling mendasar di dunia. Di dunia ini tidak apa perbedaan yang harus dipikirkan bahkan sampai harus bersengketa dan berperang. Di dunia ini hanya ada dua hal yang membedakan manusia. Manusia baik, mereka yang melakukan hal-hal baik dan sebaliknya manusia buruk dengan kelakuan yang sebaliknya juga tentu saja. Rizwan tidak bisa membedakan mana Hindu dan mana Islam, ketika ada dua orang yang satu memukulnya dengan kayu dan satunya memberi Rizwan lolipop. Rizwan hanya tahu, bahwa pemegang kayu adalah orang buruk, dan pemberi lolipop adalah orang baik. In my idea, Ibu Rizwan justru menciptakan batas yang sangat jelas. Dia tidak menghilangkan batas, tapi menciptakan batas yang nyata yang sekilas memang bias tersembunyi di balik nama orang baik dan orang buruk.

Apakah interaksi sosial tidak mengenal batas? Saya berpendapat ada batas di sana. Ada koridor-koridor, which is itu batas dalam artian yang lain. Misalnya, ketika seorang berbicara kasar dan keras, apakah dia kemudian serta merta disebut bad boy? Tidak tentu saja. Kita harus melihat, dia berasal dari mana dan seperti apa lingkungannya. Kita tentu saja tidak bisa menyamakan sikap dan tabiat orang dari daerah tertentu dan luar daerah tersebut, misalnya. Ini karena memang ada border by time, religion, social etiquette yang seperti teman saya bilang.

Seperti disebut teman saya di atas, batas sangat kompleks dan bisa dalam banyak cara pandang. Bagaimana dengan batas dalam artian spasial?. Batas memang ada. Di lingkungan kedaualatan sebuah negara, border itu jelas dan nyata. Santai….saya tidak akan berbincang apakah sebuah propinsi memiliki kewenangan di atas 12 mil laut, atau tentang keraguan Bangsa Indonesia tentang batas wilayah dan kedaulatannya sendiri. Tapi silahkan cari dan cermati, bahwa batas adalah titik penting bagi sebuah negara menyangkut wilayah dan kedaualatannya.

Hem…ternyata memang akan jadi sangat panjang ceritanya kalau saya bahas batas-batas yang tanpa batas di dunia ini. Tapi saya saat ini pada sebuah pendapat kuat dan mengarah pada kesimpulan, bahwa We don’t live in a borderless world. “We may want a borderless world, but in fact borders do matter and they still dictate” Kenyataannya memang demikian, dosen saya menasehati di akhir email beliau saat saya mengajak diskusi tentang batas antara senior dan junior di dunia kerja.

Tapi saya percaya, batas-batas yang tidak menjadikan kita harus tidak mengenal satu sama lain, tidak serta merta sibuk dengan “wilayah” sendiri dan tidak “bepergian” ke “wilayah” lain karena hanya takut melanggar batas….kita mungkin berbatas, tapi pemikiran kita harus senantiasa beyond borders….. may be…. 😀

Mari, berbagi cerita, ide dan pandangan tentang Borderless World……share ya kawan.

3 Replies to “Do We Live in A Borderless World?”

  1. ckckck…. sungguh suatu wacana yg bagus sekali mas Farid
    ‘do we life in a borderless world?’
    kadang saya juga suka berfikir…andai saja kita bisa hidup di dunia yg no boundaries… g perlu merasa terbatasi oleh berbagai batasan seperti waktu bahkan norma2 sosial. tapi… tentu aja yg ada bakal kacau balau.
    seseorang pernah mengajarkan pada saya bahwa kebebasan yag tanpa batas akan berbalik menjadi ikatan bagi yang menerimanya, sebaliknya norma2 justru akan membuat orang menjadi lebih bebas menjalani semuanya (dalam batasan tentu saja)
    kebetulan satu pertanyaan muncul di kepala saya saat mempelajari hal baru tentang batas maritim hari ini… why should they make UNCLOS to replaces older ‘freedom of the seas’ concepts?
    mungkin jawabannya adalah… karena mereka ingin melindungi laut (kl g salah UNCLOS diatus juga ttg protected area kl saya g salah… kl salah tolong dibenerin). jadi batas2 dalam kehidupan juga ada untuk melindungi kita. mungkin yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita memandang agar batas2 tersebut bisa menjadikan kita pribadi yang lebih baik dan bukan pribadi yang merasa terbatasi.

    keep your good work bos ^.^v

Leave a Reply to anin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *