Menulis Puisi

Dulu saya suka sekali menulis puisi. Beneran. Sampe ditulis di buku khusus (pas SMA sampe awal-awal kuliah), yang isinya puisi-puisi (ga jelas). Ya karena dulu masih muda, banyak puisi bertema cinta. Haha. Tapi sekarang kemampuan dan kemanuan menulis puisi berkurang drastis. Kenapa oh mengapa? Salah satu alasannya mungkin karena saya jarang membaca buku dan koran sekarang. Lho kok? Iya, biasanya inspirasi saya dapatkan untuk membuat puisi itu datang dari bahan bacaan yang seringkali menarik (walau kadang juga dari kejadian-kejadian sehari-hari yang dialami). Ini salah satu contoh puisi yang saya buat beberapa tahun yang lalu (siap-siap muntah ya… :mrgreen: )

KARENA KAU TULANG RUSUKKU

Jangan menangis perempuanku….

Jarak ini tidak memisahkan kita sepenuhnya, jarak hanya memisahkan desah…

Nafas ini, nafas kita, tetap satu….tetap padu….

Jangan bersedih perempuanku….

Ketika yang lain bersama cinta mereka, kamu tetap bersamaku, walau sekedar nafas yang menderu….sedang tubuh beku tak satu….

Jangan melihatku seperti ini perempuanku….

karena dadaku sakit ketika kamu menitikkan air mata kangen itu di pipi, sedang aku bodohnya tak bersama kamu…..

Jangan pergi perempuanku…..

Tulang rusukku kutemukan ada padamu….

puisi di atas tercatat di buat hari Senin tanggal 27 Maret 2006. Sudah cukup lama…dan cukup cupu tentu puisinya….haha.

Baiklah, saya akan tuliskan sebuah puisi untuk hari ini…

SETIA

Tidakkah kau lihat aku?

Sendiri dalam diam dan sepi

Tidakkah kau memikirkan aku?

Yang kau tinggal terbang tinggi

Tidakkah ada aku di hati mu?

Karena tak kulihat dirimu setia…..

(Selasa, 30 Maret 2010 : 11:32 A.M)

4 Replies to “Menulis Puisi”

  1. Master tlah kembali berkarya..ditunggu karyanya.. đŸ˜€

    Nb. Bukunya masih ada mas? Bisa tu dkrm ke koran ato majalah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *