Biasa

Ramadhan menjadi biasa bagi mereka yang memandang Ramadhan tak beda dengan bulan-bulan lain. Ramadhan menjadi tidak berarti, bagi mereka yang bahkan tidak tahu bahwa sekarang bulan Ramadhan yang para muslim sedunia berpuasa di bulan ini. Dan Ramadhan menjadi tidak ada di hati, bagi mereka yang tidak menyematkan waktu yang terus berlalu di hati untuk pengingat apa-apa yang dilaksanakan sepanjang hidup.

Kemarin ku lihat Ramadhan disyukuri begitu hebatnya oleh seorang penjual cendol di dekat kos. Penjualannya meningkat sampai 3 kali lipat. Tak hanya penjual cendol, tenyata pengemis-pengemis pinggir jalan, beserta bayi dan anak balita yang digendong juga bersyukur, Ramadhan memberi uang receh lebih karena banyak orang berderma di bulan suci ini.

Ramadhan, sudah di tengah dan hampir menuju akhir. Menjadi biasakah dia di hatimu? Menjadi waktu yang silap kan di matamu?.

3 Replies to “Biasa”

  1. wew, om farid di sini rupanya…

    Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terburuk sepanjang masa, diawali dengan banyaknya ulangan2 yg menyebabkan berkurangnya waktu buat ngaji n ngga teraweh. habisitu dilanjutkan dengan mid semester yang mau-ngga mau harus nengok kiri-kanan buat nyari jawaban karena soalnya susahnyaaa bukan maen.Dan yang paling nyebelin adalah saatnya libur, aku mau fokus buat cari amalan,ngaji,traweh, tapi malah halangan 🙁

    aduh…parah!mudah2an dipertemukan dengan Ramadhan taun depan deh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *