Ujian Kekuasaan

Hingar bingar pilkada DKI memperlihatkan sebuah fakta, bagi banyak orang, kekuasaan adalah sesuatu yang menggiurkan untuk dimiliki. Motifnya bisa jadi banyak dan berbeda bagi masing-masing peminat, yang baik dan dinanti orang tentu yang ingin kekuasaan digunakan untuk menyejahterakan masyarakat. Namun fakta pahit di Indonesia yang terjadi di banyak tempat, puluhan pimpinan daerah, entah bupati dan walikota, bahkan gubernur dan pejabat negara, banyak yang ditangkap karena menyalahgunakan kekuasaan. Seringkali hanya karena sekedar ingin memperkaya diri. Punya uang banyak dan bisa ngapa-ngapain.

Perebutan kekuasaan seolah semata tentang ketika berkuasa bisa ngapa-ngapain. Padahal di pundak pemimpin terpilih tersebutlah, nasib jutaan orang dipertaruhkan.

Kekuasaan sejatinya membuka pintu ke jurang kejahatan jika tidak pandai membawa diri, dan menahan diri.

Jangankan menjadi gubernur DKI yang harus menangani jutaan orang, menjadi pimpinan untuk puluhan orang di satu lantai kantor saja banyak yang gagal.

Maka yang jadi pimpinan umat seharusnya memang mereka yang sejak awal tidak saja punya kemauan, tapi niat baik untuk membuat kondisi menjadi lebih baik.

Kejujuran: priceless

Salah satu hal yang paling bersinggungan dengan orang jualan adalah kejujuran. Jujur, saya yakin, tidak hanya untuk pada pedagang tantangan berat bagi semua orang.

Pedagang, seringkali dicurigai tidak jujur dalam banyak aspek, misal yang paling sering dilihat, timbangan. Dulu, dulu sekali timbangan pasar itu sering jadi contoh bagaimana kecurangan dilakukan para pedagang. Timbangan tidak seimbang sehingga yang diterima pembeli tidak sama dengan yang dia beli, berkurang.

Pedagang tidak jujur juga bisa ditonton di banyak video di youtube. Ada pedagang yang cekatan sekali mengganti plastik belanjaan yang sudah ditimbang dengan plastik lain yang sudah disiapkan, yang sudah ada isinya, dan sudah tentu isinya bisa dipastikan tidak sesuai dengan apa yang dibeli. Continue reading “Kejujuran: priceless”

Dalam Genggaman

Perjalanan ke Bali minggu kemarin, menyisakan satu cerita tentang penginapan. Karena harus berkeliling ke semua, iya semua, kabupaten dan kota di Bali, yang jumlahnya 9, dan ditambah ke provinsi, maka ada sepuluh tempat yang harus kami tuju dalam waktu lima hari saja.

Percaya atau tidak, ada setidaknya 4 skenario yang saya susun untuk rute perjalanan. Hal ini tentu karena jarak yang lumayan jauh dari satu kota ke kota yang lain. Dan harus ke dua atau tiga tempat dalam sehari. Silahkan buka google maps, dan lihat lokasi Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Buleleng. Sudah? Dua kota itu harus disinggahi pada hari yang sama, dimana pertemuan di Karangasem pada jam 10 WITA dan di Buleleng jam 13 WITA. Continue reading “Dalam Genggaman”

Minoritas

Saya berkesempatan menjejak lagi Bali, pulau dewata seminggu kemarin. Ada pekerjaan kantor yang berlokasi di Bali di tahun ini, dan saya berkeliling Bali untuk berkoordinasi. Tidak ada yang spesial sekali kalau masalah pekerjaan dan apa yang saya lakukan. Yang menarik justru bagaimana saya belajar menjadi minoritas. Ya, anda pasti paham maksudnya.

Saya muslim, dan sebagaimana diketahui, di Bali mayoritas penduduknya beragama Hindu. Di Bali tentu lebih mudah menemukan pura, daripada masjid, melihat rumah makan babi guling daripada rumah makan halal. Continue reading “Minoritas”

Mute

Saya sedikit heran ketika adik saya berbagi printscreen layar hp nya, dan semua grup di whatsapp, kecuali grup keluarga, di mute. Tanpa notifikasi.

Seinget saya, saya belum pernah sekalipun mengaktifkan menu mute di hp. Resikonya memang hp dapat sewaktu-waktu berbunyi ketika ada pesan masuk di grup whatsapp. Bisa kapan, termasuk mungkin dini hari. Saat tidur, atau mau tidur. Memang mengganggu. Apalagi, jika grup whatsapp yang diikuti banyak. Gimana lagi, sekarang setiap “kumpulan orang” bikin grup whatsapp. Saya mungkin tergabung di 10-an grup whatsapp. Mulai dari kantor, kampus, ngaji, fans United, temen sma, dan banyak grup lain.

Seringkali, bergabungnya kita ke sebuah grup whatsapp juga bukan karena kita ingin dan mau. Kadang cuma karena di add, dan akhirnya terpaksa lah jadi anggota. Keterpaksaan jadi anggota bisa berarah ke dua hal, pertama meninggalkan Keterpaksaan karena ternyata grup nya seru, asik, dan nyambung. Sebaliknya, keterpaksaan bisa berujung pada mute, aktifkan mode tersebut bahkan untuk setahun. Lha mau gimana, grupnya ya engga kenal semua, coba ngobrol engga ada yang nanggepi, dan obrolannya kok lokal sekali. Misalnya grup alumni sekolah, tapi kebanyakan bukan teman maen saat sekolah dulu, sehingga obrolannya jadi engga ada yang nyambung. Ya mungkin saat yang tepat untuk mengaktifkan mute.

Iya ngaku, saya mute satu grup.
Hahaha.